Menengok Perjalanan Batik Danar Hadi di Solo

Menengok Perjalanan Batik Danar Hadi di Solo

Perjalanan Batik Danar Hadi sebagai perusahaan pendukung dan pemelihara fine-art batik sebagai warisan budaya Indonesia dimulai sejak tahun 1967.

Batik Danar Hadi didirikan oleh pasangan Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono.

Santosa Doellah adalah anak kelima dari 10 saudara yang lahir dari pasangan Dr Doellah dan Hj Fatimah Wongsodinomo.

Sejak sekitar umur 15 tahun, Santosa sudah mengenal batik. Dia mewarisi darah pembatik dari neneknya Wongsodinomo.

“Jadi Bapak mewarisi dari pembatik dari neneknya. Karena pada saat ibunya meninggal, dia termasuk lima anak yang tinggal dengan neneknya, yang pada saat itu adalah saudagar batik.”

Demikian diungkapkan putri kedua pendiri Batik Danar Hadi, Diana Kusuma Dewati Santosa di Solo, Jawa Tengah, Jumat (8/12/2017) kemarin.


“Bapak selalu cerita, eyang itu enggak pernah menurunkan (usahanya), tapi orang itu harus punya usahanya bagaimana dia mencapai level tertentu.”

“Jadi, enggak ada namanya dikasih,” tambah Diana.

Kegiatan usaha batik Santosa diawali dengan memproduksi batik tulis motif Wonogiren. Batik produksinya itu berupa jarit yang pada saat itu sedang populer digunakan masyarakat.

Sementara, untuk membedakan antara batik produksinya dan produk orang lain, Santosa memutuskan untuk menggunakan nama “Danar Hadi” sebagai merek dagang.

“Danar Hadi” diambil dari nama depan istri Santosa, Danarsih dan bapak mertua “Hadi”.

“Waktu pertama kali produksi batik Wonogiren, Bapak dibantu 20 orang pembatik,” kata perempuan yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Batik Danar Hadi itu.

Batik Danar Hadi memiliki delapan desainer batik. Setiap bulannya para desainer batik mampu menghasilkan 20-30 motif batik.

Motif tersebut kemudian diturunkan untuk pembuatan batik.

Tahun 1973 Batik Danar Hadi masuk ke dalam bisnis retail dengan membuka toko pertamanya di Jalan Dr Radjiman 164, Solo.

Seiring perkembangan, Batik Danar Hadi saat ini telah melebarkan sayap usahanya dengan memiliki 21 rumah batik Danar Hadi di beberapa kota besar.

Ada di Medan, Jakarta, Solo, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Balikpapan, dan juga Bali.

Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan produksi batik, Santosa mendirikan pabrik produksi kain mori sebagai bahan baku pembuatan batik.

Guna mengabadikan batik hasil karyanya, Santosa membangun museum batik Danar Hadi di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Di museum ini terdapat ribuan koleksi batik, sejak karya pertama Santosa hingga yang terbaru. Batik-batik itu dipamerkan di ruang utama museum tersebut.

Berbagai penghargaan juga diterima Batik Danar Hadi. Sebutlah, International Trophy for Quality – XII Madrid, Spain 1984, dan International Award – VI Tokyo 1986.

Lalu ada Superbrands 2012-2013, Indonesia Museum Awards, dan Anugerah Purwakalaghra – Pengabdian sepanjang masa 2017.

sumber: lifestyle.kompas.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *